Military Technology News Network

KRI MAKASSAR SI BONTOT DENGAN SPESIALISASI PENDARATAN DAN OPERASI AMFIBI

KRI Makassar (590) adalah sebuah kapal LPD buatan Daesun Shipbuildings & Engineering CO. Ltd, Korea Selatan. Kapal ini merupakan kapal pertama dari dua kapal yang dibangun di Korsel dan dirancang sebagai kapal perang rumah sakit. Selain sebagai kapal tempur, kapal yang berteknologi desain semi stealth ini juga berfungsi untuk operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana alam. Kontrak kapal ini ditandatangani pada Desember 2004, kontrak ini berisi tentang pengadaan satu Kapal Komando (KRI Tanjung Dalpele) dan empat kapal LPD (dua dibuat di Korea dan dua lainnya dibangun di PT PAL Surabaya).KRI Makassar ini, juga memiliki spesialisasi untuk pendaratan pada operasi amfibi.

Makassar - Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki sejarah bidang maritim dimasa lampau diabadikan untuk nama kapal perang AL yakni, KRI Makassar dengan nomor lambung 590.

Kapal tersebut dengan Komandan Letkol Lut (P) Taat Siswo Sunarto telah merapat di dermaga Hatta pelabuhan Makassar, Senin pukul 07.00 Wita dan menurut rencana akan di kukuhkan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Slamet Soebijanto, didampingi Panglima Armada Timur Surabaya, Laksamana Muda TNI Moekhlas .
Nama Makassar diabadikan untuk kapal perang tersebut, karena kota ini memilik sejarah panjang baik sebagai kota maritim maupun pada saat kejayaan Kerajaan Gowa di Sulsel.

Selain itu, Makassar merupakan salah satu pusat kekuatan yang terletak di kawasan itu di masa lalu dan sampai saat ini salah satu kota terbesar diwilayah timur.

Dari kota ini juga banyak putra bangsa Indonesia memperjuangkan dan mengorbankan jiwa dan raganya demi ibu pertiwi.

Alasan dipilihnya Makassar sebagai nama KRI karena kota Makassar sebagai kota bahari yang mempunyai sejarah bagi TNI Angkatan Laut, berdasarkan pertimbangan :

Makassar merupakan ibukota Sulawesi Selatan, sebelumnya lebih dikenal dengan nama Ujung Pandang. Kota ini terletak di pesisir barat Pulau Sulawesi bagian selatan dengan luas wilayah sekitar 22,97 km persegi. Makassar menjadi pusat wilayah pembangunan bagian selatan dan berfungsi sebagai pusat pelayanan beberapa propinsi di Indonesia bagian timur. Di Makassar telah dibangun perindustrian galangan kapal dengan nama Galangan Kapal Makassar (GKM) berkapasitas 3000 ton, disamping itu terdapat galangan kapal yang lebih kecil berkapasitas 500 ton. GKM dari tahu ke tahun berhasil mereparasi serta membuat kapal-kapal laut.

Pada abad ke XVII, Pelabuhan Makassar memiliki kedudukan yang sangat strategis dan penting dalam perdagangan antar pulau. Pelabuhan Makassar berfungsi sebagai stasiun para pedagang-pedagang asing maupun nusantara yang melakukan pelayaran dari Maluku ke Malaka dan sebaliknya. Makassar juga merupakan pusat pemasaran hasil dari wilayah Indonesia timur seperti rempah-rempah, bahan wangi-wangian, serta tempat mengambil bahan makanan.

Pada masa perang kemerdekaan, para tokoh ALRI putera Sulawesi yang berada di Jawa berusaha membentuk ALRI di Sulawesi, dengan maksud untuk menyatukan unsur-unsur ALRI seberang dalam satu wadah yang kompak. Dengan demikian perjuangan bersenjata mengusir Sekutu dapat lebih ditingkatkan. Atas inisiatif A.R. Aris yang dibantu oleh Daeng Mangata dari Tegal maka diusulkan pembentukan ALRI Sulawesi kepada Kepala Staf MBAL di Yogyakarta. Usulan tersebut mendapat tanggapan positif dan mengeluarkan ketetapan No 36/PNT/OP tanggal 26 November 1946 tentang penggabungan ALRI Divisi VI Armada dengan ekspedisi Sulawesi menjadi satu badan Markas Pertahanan ALRI VI di bawah pimpinan J.H. Tamboto. Pembentukan MPA VI dengan harapan dapat menyatukan kekuatan dalam satu pimpinan sehingga setiap kegiatan dapat dilaksanakan secara efektif. Organisasi tersebut berfungsi pula sebagai pengatur taktik dan strategi perjuangan dalam menghadapi tantangan dari pihak Belanda. Hambatan utama yang dihadapi adalah adanya politik adu domba Belanda yang mengakibatkan kekuatan MPA VI dengan rakyat terpisah. Teror yang dilakukan Belanda mengakibatkan timbulnya rasa takut dikalangan rakyat untuk membantu perjuangan gerilyawan. Selain itu, Belanda mengadakan Blokade laut di perairan Sulawesi Selatan. Serangan yang dilancarkan Belanda mengakibatkan banyak anggota pasukan terpisah dari komandannya.

Perjuangan MPA VI lebih banyak menggunakan senjata sosial dalam menghadapi Belanda dan apabila dianggap perlu maka dilaksanakan perang gerilya. Salah satu serangan yang berhasil adalah serangan terhadap konvoi Belanda saat melewati jalan Ngunut. Akibat penghadangan tersebut pihak Belanda mengalami kerugian besar diantaranya berhasil ditawannya Mayor Niev Enhuys.

UKURAN
KRI Makassar Memiliki  panjang 122,00 meter, panjang garis tengah 109 meter, lebar 22,00 meter, tinggi 32,75 meter, dengan kecepatan maksimum 15,1 knots, jelajah 13,5 knots dengan daya angkut 618 orang, terdiri atas anak buah kapal (ABK) 100 orang, pasukan 507 dan tamu 11 orang.

PERSENJATAAN

KRI Makassar dilengkapi senjata tempur berupa satu pucuk meriam 40 mm jenis AB Bofors/SAK 401/70-B, 40 pucuk meriam 20 mm jenis oerlikon, dua pucuk rudal jenis mistal simbad.

KELENGKAPAN
Selain itu, KRI Makassar dilengkapi pula Tank 22 unit dengan bobot per unit sebesar delapan ton dan truck 15 unit.Selain itu, ada Helikopter tipe MI-2/Bell, dua unit LCU dengan panjang 23 meter yang mampu mengangkut satu buah truk dengan bobot delapan ton ditambah 150 orang pasukan.
Share:

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

MOMOSERGEIDRAGUNOV

Pages

Military

Name*


Message*

Blog Archive