Military Technology News Network

KONTRIBUSI SUKU DAYAK KALIMANTAN DALAM KONSEP PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA

Konsep Kesatriaan Suku Dayak Kalimantan
Ada sebuah tradisi kekesatriaan yang luar biasa. Bisa dijadikan teladan oleh Bangsa Indonesia untuk menghadapi ancaman dan rongrongan dari bangsa lain serta untuk membela Negara. Tradisi ini berasal dari etnis Dayak di Kalimantan.

KONSEP PERTAHANAN PERTAMA ADALAH ADANYA PEMIMPIN YANG DIPERCAYA OLEH MASYARAKAT MAMPU MENGAYOMI,  MELINDUNGI DAN KHARISMATIK.

Pemimpin yang berjiwa kesatria ini dipercaya sangat sakti yang menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Wujudnya bisa pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Dia disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman atau dikenal oleh masyarakat luas sebagai PANGLIMA BURUNG.

Ia telah hidup selama ratusan tahun dan tinggal di pedalaman Kalimantan. Panglima Burung juga bisa berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan. Bisa jadi dia dulu merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Selain sakti mandraguna, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan penjaga perdamaian. Dia adalah tipe ideal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang sedikit pemalu.

Orang Dayak bukan orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bahkan cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual.

Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang.

Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun pemimpin, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam.

Panglima Burung jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Tidak ada kamus dalam masyarakat dayak agar melanggengkan budaya kekerasan dan keberingasan. Sebab Panglima Burung adalah sosok yang penyabar. Namun saat kesabaran demi kesabaran sudah habis maka dia akan turun gunung dan berubah menjadi seorang dewa syiwa.

Panglima Burung yang akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Dia pun menggelar sebuah ritual yang dinamakan Mangkok Merah. Ritual yang dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka terhipnotis dan siap perang.

Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah–agama manapun–dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak sebenarnya hanyalah untuk MEMBELA DIRI. Pembunuhan JELAS tak boleh dilakukan, tetapi HANYA OPSI UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI.

KONSEP PERTAHANAN KEDUA ADALAH GOTONG ROYONG BAHU MEMBAHU, MERASA SENASIB SEPENANGGUNGAN.

MANGKOK MERAH adalah alat komunikasi mistis yang berfungsi sebagai pembawa pertanda bahwa ada sekelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan dari seluruh masyarakat sehingga seluruh masyarakat harus bahu membahu dan bergotong royong memberikan bantuan.

Selain sebagai alat komunikasi, Mangkok Merah juga berfungsi sebagai penghubung dengan roh nenek moyang. Orang Dayak percaya bahwa melalui Mangkok Merah roh para leluhur akan membantu mereka dari serangan pihak luar.

Roh leluhur dalam adat Dayak Kanayatn (sub-etnik mayoritas di Kalbar) disebut Dewa Sakti yang terdiri atas tujuh roh bersaudara. Mereka bernama Bujakng Nyangko Samabue, Kamang Muda Santulangan, Sarukng Sampuro, Sansa Lalu Samarawe, Bujang Gila Palepak, Nyaro Nyantakng Pajamuratn dan Bensei Sampayangan. Tujuh roh leluhur ber saudara ini tinggal di tujuh tempat yang berlainan. Untuk memanggil roh-roh Dewa Sakti ini, hanya Panglima Adat yang berwenang melakukannya.

Sejumlah perangkat harus disiapkan oleh Panglima Adat sebelum upacara pemanggilan roh Dewa Sakti. Mangkok yang terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.

Mangkok Merah dibawa Panglima ke panyugu yakni sebuah tempat yang dianggap keramat pada saat matahari terbenam. Di panyugu, Panglima meminta petunjuk roh Dewa Sakti. Roh Dewa Sakti akan menjawab dengan tanda-tada alam yang oleh Panglima akan diterjemahkan apakah Mangkok Merah sudah saatnya atau belum untuk diedarkan.

Jika Panglima turun ke kampung dengan teriakan-teriakan magis tertentu yang diteriakkan dengan suara nyaring, maka Dewa Sakti sudah mengijinkan Mangkok Merah diedarkan. Roh salah satu tujuh bersaudara Dewa Sakti tadi mempengaruhi tubuh sang Panglima dan masyarakat segera merespon. Mereka berkumpul di lapangan memegang mandau, perisai dan senjata lantak dengan kain merah terikat di kepala, siap untuk berperang.

Dalam sekejab, Panglima menularkan roh Dewa Sakti kepada prajurit. Pangarah (kurir) ditunjuk Panglima untuk mengantarkan bungkusan kain merah itu ke kampung lain. Pangarah terbang dan dalam waktu sekejab disertai teriakan ritual sampai di kampung lain.

Panglima kampung tetangga, dengan kekuatan supranaturalnya, akan mengetahui kedatangan pangarah dan menjemputnya bersama masyarakat. Pangarah mengabarkan siapa musuh yang harus dihadapi. Panglima kampung tersebut kemudian menularkan roh Dewa Sakti kepada masyarakat yang telah berkumpul.

Upacara seperti itu terus berlangsung di seluruh wilayah yang bisa dijangkau hingga dianggap cukup untuk menghadapi musuh. Jika perang dianggap selesai upacara pengembalian Roh Dewa Sakti yang disebut Nyaru Semangat akan dilakukan. Dengan sejumlah upacara adat induk roh (induk Tariu) tersebut dikembalikan ke tempat asalnya.

Mangkok Merah di kalangan suku Dayak Kanayatn juga dipercaya menambah kesaktian. Dengan ikat kepala warna merah, orang-orang Dayak yang merasa roh para leluhur itu telah berkarya di dalam tubuhnya bisa mengenali mana lawan dan kawan hanya dengan indra penciumannya.

Dampak beredarnya Mangkok Merah ini memang dasyat. Ribuan orang Dayak, laki-laki dan perempuan yang terkena pengaruh magis Mangkok Merah bergerak di bawah komando panglima perang. Para panglima perang biasanya menggunakan nama-nama alam seperti Panglima Burung, Panglima Halilintar atau Panglima Angin. Panglima perang tertua dan terkenal dari suku Dayak Kanayatn bernama Panglima Burung.

Daya magis Mangkok Merah membuat prajurit Dayak tak mempan dibacok, tahan lapar hingga sebulan dan bisa melesat cepat di dalam hutan. Hampir tiap hari, pasukan ABRI menemukan sekelompok orang Dayak di sebuah tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat asal mereka. Dengan sejumlah truk ABRI mengembalikan para prajurit Dayak yang “terdampar” di suatu tempat ke tempat asal mereka.

Mangkok Merah biasanya digunakan jika orang Dayak benar-benar terpaksa. Segala macam akibat yang akan ditimbulkan akan dipertimbangkan masak-masak karena korban jiwa dalam jumlah besar sudah pasti akan berjatuhan.

Tradisi Mangkok Merah pernah digunakan untuk menangkap tokoh komunis yang dipimpin Sofyan tahun 1967, pasukannya berhasil mengenali dan membunuh kaum komunis.

KESIMPULAN

SEBELUM BANGSA INDONESIA MENGANUT SISTEM PERTAHANAN DAN KEAMANAN RAKYAT SEMESTA, TERNYATA TRADISI BUDAYA SUKU BANGSA DAYAK TELAH MENGENALNYA SEJAK RATUSAN TAHUN SILAM. KEARIFAN INI BISA DIJADIKAN TELADAN BANGSA KITA UNTUK MEMBELA NEGARA.

BUDAYA DAYAK MENGAJARKAN AGAR NEGARA KITA TIDAK BOLEH KEHILANGAN SEMANGAT JUANG UNTUK MEMBELA TANAH AIR.

PARA PAHLAWAN KITA YANG TELAH GUGUR TIDAK AKAN SIA-SIA BILA DI DALAM DADA SETIAP WARGA NEGARA MEMILIKI SEMANGAT JUANG UNTUK MEMBANGUN BANGSA INDONESIA AGAR LEBIH BAIK DAN SEJAHTERA.

Oleh
Wong Alus
Share:

PERAN RRI DALAM SEJARAH KEMERDEKAAN INDONESIA

Tahukah anda bahwa rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno, yang hingga kini bisa kita dengar di Monas dan juga banyak beredar di internet itu, tidak direkam pada tanggal 17 Agustus 1945 ? Tahukah anda bahwa kabar tentang proklamasi yang pertama kali disiarkan melalui radio ke seluruh dunia tidak keluar dari mulut Bung Karno langsung?

Ya inilah kepingan sejarah kemerdekaan Indonesia yang melibatkan satu nama yang sangat penting dalam sejarah dunia radio siaran di Indonesia. Beliau adalah almarhum Muhammad Jusuf Ronodipuro, salah seorang pendiri Radio Republik Indonesia (RRI), bahkan yang pertama mengeluarkan slogan : “Sekali di Udara Tetap di Udara!”.

Berikut beberapa informasi tentang peran beliau di masa kemerdekaan Indonesia yang saya sarikan dari berbagai sumber.

KABAR TENTANG PROKLAMASI

Banyak orang berpikir bahwa  suara Bung Karno membacakan proklamasi itu mengudara juga di radio pada hari yang sama saat Indonesia merdeka. Ternyata bukan begitu ceritanya.

Jumat, 17 Agustus 1945, sekitar jam 17:30 WIB. Saat itu  Pak Jusuf sedang berada di kantornya, Hoso Kyoku (Radio Militer Jepang di Jakarta). Tiba-tiba muncullah Syahruddin, seorang pewarta dari kantor berita Jepang Domei dengan tergesa-gesa. (Catatan: Pak Jusuf sempat meralat kebenaran berita bahwa yang datang itu adalah sejarawan Des Alwi). Syahruddin yang masuk ke kantor Hoso Kyoku dengan melompati pagar itu menyerahkan selembar kertas dari Adam Malik yang isinya “Harap berita terlampir disiarkan”. Berita yang dimaksud adalah Naskah Proklamasi yang telah dibacakan Bung Karno jam 10 pagi.

Masalahnya, semua studio radio Hoso Kyoku sudah di jaga ketat sejak beberapa hari sebelumnya, tepatnya sehari setelah  Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh Amerika. Jusuf kemudian berunding dengan rekan-rekannya, diantaranya Bachtiar Lubis (kakak dari Sastrawan dan tokoh pers Indonesia Mochtar Lubis) dan Joe Saragih, seorang teknisi radio.

Beruntung, studio siaran luar negeri tidak dijaga. Saat itu juga dengan bantuan Joe, kabel di studio siaran dalam negeri di lepas dan disambungkan ke studio siaran luar negeri. Tepat pukul 19:00 WIB selama kurang lebh 15 menit Jusuf pun membacakan kabar tentang proklamasi di udara, sementara di studio siaran dalam negeri tetap berlangsung siaran seperti biasa untuk mengecoh perhatian tentang Jepang.

Belakangan tentara Jepang mengetahui akal bulus Jusuf dan kawan-kawannya. Mereka pun sempat disiksa. Beruntung mereka selamat. Malam itu pun radio Hoso Kyoku resmi dinyatakan bubar, tetapi dunia saat itu juga sudah mengetahui kabar tentang proklamasi langsung dari mulut Jusuf Ronodipuro. Sayang rekaman suara ini tidak diketahui lagi keberadaannya, atau jangan-jangan sudah tidak ada mengingat malam itu juga radio tersebut ditutup oleh Jepang.

CIKAL BAKAL RADIO REPUBLIK INDONESIA

Gara-gara luka-luka dipukuli tentara Jepang, Jusuf Ronodipuro berobat ke seorang dokter bernama Abdurrahman Saleh. Mengetahui apa yang baru dilakukan oleh Jusuf, Abdurrahman Saleh kemudian menyarankan agar Jusuf membuat pemancar radio sebagai sarana komunikasi pemerintahan Indonesia yang baru dengan rakyat.

Kabarnya diperlukan waktu tiga hari bagi Jusuf dan kawan-kawannya untuk merakit pemancar itu. Laboratorium milik dokter Abdurrahman Saleh di belakang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RSCM, pun kemudian dipakai sebagai ruang siaran. Maka berdirilah radio Voice of Indonesia yang siaran 2 jam sehari, satu jam dalam bahasa Indonesia, satu jam dalam Bahasa Inggris.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa untuk masuk ke studio ‘radio gelap’ tersebut harus melewati kamar mayat RSCM yang baunya busuk, sehingga setiap habis siaran bajunya pun tertular bau busuk itu dan harus direndam selama 2 hari untuk menghilangkan baunya.

Tetapi dari ruangan berbau busuk mayat itulah, Voice of Indonesia mengudara dan menjadi media utama untuk mengabarkan perjuangan Indonesia kepada rakyat dan juga ke masyarakat internasional. Bung Karno sendiri pertama kali berpidato di radio tersebut pada tanggal 25 Agustus 1945 sementara 4 hari kemudian Bung Hatta juga mengudara dari studio yang sama.

Voice of Indonesia kemudian menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia. Abdurrahman Saleh adalah direktur RRI yang pertama, dan Jusuf Ronodipuro kemudian dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan slogan “Sekali Di Udara, Tetap Di Udara!”

MEREKAM PEMBACAAN NASKAH PROKLAMASI


“Proklamasi itu hanya satu kali!” begitu kata Ir. Sukarno dengan nada marah kepada Jusuf Ronodipuro pada suatu hari di awal tahun 1951. Dalam pengakuan kepada salah seorang kerabat dekatnya Louisa Tuhatu, Jusuf Ronodipuro dengan rendah hati mengatakan, kebetulan sekali saat RRI baru saja membeli peralatan baru dan mendadak pula muncul ide di benaknya untuk merekam suara Bung Karno membacakan proklamasi.

Meskipun sempat ‘ciut’ juga dimarahi oleh Sang Pemimpin Besar Revolusi, tetapi Jusuf tetap bersikukuh. “Betul, Bung. Tetapi saat itu rakyat tidak mendengar suara Bung,” bujuknya. Bung Karno pun bersedia merekam suaranya tengah membacakan naskah proklamasi. Ini terjadi hampir 6 tahun setelah proklamasi yang asli dibacakan.

Nah, kebenaran cerita ini sempat menjadi kontroversi tersendiri. Bahkan -bisa ditebak- nama seorang Roy Suryo pun sempat terbawa-bawa disini. Tapi sudahlah. Itu urusan dia hehe.

Toh ada beberapa bukti yang bisa memperkuat kebenaran cerita ini. Kalau anda dengar pembacaan naskah proklamasi, maka akan terdengar kualitas rekaman yang relatif bersih, tidak ada suara-suara latar apapun. Senyap, seolah direkam di studio. Yang ada hanya suara Bung Karno. Padahal diasumsikan saat itu suasana saat proklamasi dibacakan sangatlah ramai. Nada suara Bung Karno pun tidak berapi-api seperti biasanya saat ia berpidato, bahkan ada kesan santai.

Bukti lain diceritakan oleh Louisa Tuhatu, orang terdekat Jusuf Ronodipuro di blognya (silahkan temui tautannya di akhir artikel ini). Anda mungkin tahu bahwa dalam naskah asli proklamasi yang hingga kini masih tersimpan rapi, tercetak tanggal “ hari 17 boelan 8, tahoen 05 “, sesuai penanggalan Jepang yakni tahun 2605 yang sama dengan tahun 1945. Tetapi dalam pembacaan saat rekaman, Bung Karno menyebutkan tahun 1945 dan bukannya tahun 05 atau 2605.

Demikianlah sekelumit catatan sejarah tentang sosok Jusuf Ronodipuro dan bagaimana radio berperan besar pada masa proklamasi kemerdekaan.

Muhammad Jusuf Ronodipuro meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Berita wafatnya beliau tidak banyak beredar, karena pada hari yang sama banyak media lebih terfokus pada kematian Suharto. Toh Indonesia akan selalu mengenang beliau sebagai salah seorang yang paling berperan mewartakan kemerdekaan Indonesia kepada seluruh dunia.

Sekali Di Udara, Tetap di Udara!!!

Dikutip by : Ilmu Kelas Berat
Share:

MENGENAL BELADIRI MILITER "BELATI"

Simulasi Bela Diri
Kegiatan Bela Diri Militer ini dimaksudkan agar personel militer tetap mampu memelihara kemampuan BDM yang sudah diajarkan sejak pendidikan pembentukan. Melalui latihan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut, kemahiran prajurit di bidang ini tetap  terpelihara, terus  dipertahankan dan ditingkatkan

Belati
Adalah Organisasi Bela Diri Taktis Yang Menggunakan Tangan Kosong Dan Senjata Tajam (Pisau) Secara Cepat Dan Tepat. Organisasi Ini Terbentuk Pada 9 Januari 2008 Atas Prakarsa Tiga Praktisi Bela Diri Yang Selama Ini Menekuni “ Close Quarter Combat Training “ Dari Ret.Capt. Glen Gardiner Dari Australian Army. Dengan Latar Belakang Pengalaman Beladiri Yang Berbeda Dan Pengalaman Berlatih Bersama Dengan Berbagai Negara: Australia, Fiji, Inggris,Amerika Dan Norwegia, Kami Berhasil Merangkum Materi Latihan Beladiri Taktis Yang Efektif Dan Efesien.


Tujuan
Melatih Praktisi Menggunakan Pisau Secara Benar Yaitu Cepat Dan Tepat.Praktisi “Belati” Akan Diajarkan Pengetahuan Anatomi Tubuh Manusia Dan Pembuluh Darah, Hingga Praktisi Tahu Letak Sasaran Dan Bagaimana Menyerangnya, Karena Beberapa Bagian Vital Manusia Letaknya Tersebunyi Dalam Kulit,Daging Dan Tulang. Dengan Mengetahui Tehnik Dan Letak Sasaran Yang Benar Akan Memudahkan Praktisi “Belati” Untuk Melumpuhkan Lawan Dalam Tempo Yang Singkat.

Visi Dan Misi
Adalah Penting Bagi Kami Untuk Menyebar Luaskan Ilmu Pengetahuan Kami Ke Berbagai Pihak Yang Me Membutuhkan Seperti : Jasa Keamanan, Kepolisian, Militer Dan Sebagainya, Mengingat Profesi Mereka Yang Memang Membutuhkan Ilmu Pengetahuan Ini.

Materi

Pengenalan Senjata Tajam: Karakter Pisau, Satu Sisi, Dua Sisi, Berat Pisau,Panjang Pisau, Dst.
Posisi Tempur: Handle Grip,Reverse Grip
Jarak Tempur : Close,Medium,Projectile.
Drill Pisau, Drill Tangan
 
Anatomi Tubuh Manusia
Tehnik Bertarung (Lawan Tangan Kosong,Lawan Bersenjata)
Tehnik Ambush (Sergapan Dari Belakang,Samping,Depan)

Sparring
Penggunaan Padded Knife Atau Dummy Untuk Latih Tanding Untuk Melihat Sejauh Mana Pemahaman Praktisi “Belati” Dalam Pertarungan Sesungguhnya.
Share:

KALIMANTAN SIAP MENYAMBUT KEDATANGAN KAVALERI BERAT

Peta Strategis Kalimantan
Pemerintah menyediakan anggaran Rp3,9 triliun membangun wilayah perbatasan darat Kalimantan-Malaysia Timur. Panjang garis perbatasan di sana hingga 2.000 kilometer dari barat ke timur.

Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur berhadapan dengan Malaysia di Kalimantan berhadapan dengan dua negara bagian Malaysia, Sabah dan Sarawak.

Sekretaris Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP), Sutrisno, di Balikpapan, Selasa, menyatakan, "Anggaran untuk mengembangkan 39 kecamatan sepanjang perbatasan." Artinya, tiap kecamatan akan mendapat banyak sekali dana untuk memajukan wilayahnya.

"Bagian dari tahapan pembangunan hingga 2025. Akan dibangun 187 kecamatan di 38 kabupaten di 12 provinsi. Rencana induk 2011-2014 sudah melibatkan 111 kecamatan," katanya.

Sutrisno menghadiri Rapat Koordinasi Pembangunan Kawasan Perbatasan Kalimantan Timur. Rapat itu dibuka Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak.

Anggaran dan perencanaan tersebut berkenaan perubahan cara pandang mengenai daerah perbatasan. Wilayah perbatasan, khususnya perbatasan darat dengan Malaysia di Kalimantan, kini dianggap sebagai beranda atau teras depan dari Republik Indonesia.

Perubahan cara pandang itu juga untuk mengimbangi pesatnya kemajuan pembangunan kota-kota negara tetangga tersebut yang letaknya tidak jauh dari kota-kota Indonesia, yang umumnya tertinggal.

Pembangunan infrastruktur juga akan dibarengi pembangunan pada sektor energi, pendidikan dan kesehatan untuk membuka isolasi.

Bukan cuma pada aspek keseharian, karena TNI-AD berambisi menempatkan batalion-batalion kavaleri berat di garis perbatasan Kalimantan yang akan dilengkapi dengan meriam 155mm Caesar buatan Prancis, serta laras panjang lainnya, untuk pasukan Kodam XII/Tanjungpura, dalam menjaga perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan Barat.

MERIAM 155M CAESAR

Meraim Caesar 155 M

Untuk tahap awal, Kodam XII/Tanjungpura akan dilengkapi satu Batalyon Altileri Medan dengan mengusung sekitar 30 meriam 155mm Caesar. Hal ini disampaikan KASAD saat mengunjungi Makodam XII/Tanjungpura, Pontianak.

Meriam 155mm Caesar adalah self-propelled howitzer bergerak, yang dipasang di atas truk Unimog 6×6. Dengan pengisian proyektil otomatis, meriam 155mm ini siap menembakkan 18 munisi dalam hitungan menit.

Howitzer Caesar dioperasikan oleh 3 hingga 5 kru dan bisa diangkut pesawat C130 Hercules untuk digerakkan dengan cepat. Di jalan beraspal, howitzer ini melaju hingga kecepatan 100 km/ jam. Sementara di medan off-road 50km/jam. Meriam otomatis ini memiliki jarak tembak 42 km (munisi ERFB) atau 50 km untuk munisi roket, Batalyon Armed Caesar 155mm, bertugas sebagai supporting Batalyon Kavaleri yang membawa MBT Leopard 2A6.

MBT LEOPARD
 

MBT Leopard 2A6

Pada tahap awal Kavaleri ini akan diperkuat 40 MBT Leopard 2, dipadukan dengan puluhan light tank lainnya. Batalyon kavaleri ini akan ditempatkan di kabupaten Bengkayang. Tank ini memiliki kemampuan untuk bertempur menghadapi sasaran bergerak walaupun melewati medan yang sangat sulit dan tidak rata.

Varian yang aktif antara lain 2A4, 2A5, 2A6, dan 2A7 (paling baru). Banyak Leopard 2 yang diupgrade untuk memperpanjang masa tugasnya dan memperkuat persenjataanya, umumnya ke varian 2A5 dan 2A6.

HIMARS (High-Mobility Artillery Rocket System)
 

HIMARS


Kodam XII/Tanjungpura bertugas mengamankan wilayah Kalimantan Barat dan Tengah. Sementara Kodam VI/Mulawarman menjaga wilayah Kalimantan Timur dan Selatan.

Untuk mengamankan perbatasan Kalimantan Timur, Kodam VI Mulawarman akan dilengkapi peluncur roket multi laras MLRS. Kini Kodam Mulawarman sedang membangun pangkalan MLRS di wilayah Berau Kalimantan Timur. MLRS yang akan mereka gunakan kemungkinan HIMARS dan Roket Pindad.

Kodam Mulawarman juga akan disuport satuan Skuadron Helikopter Serbu. Informasi terakhir, Skuadron ini akan diisi Helikopter AH 64 Apache.

AH 64 APACHE

AH 64 APACHE


Boeing AH-64 Apache merupakan helikopter serbu bermesin ganda dengan tandem cockpit untuk dua kru. Helikopter ini memiliki nose yang dilengkapi piranti sensor untuk mengakusisi posisi target, serta kemampuan perang malam (night vision).

AH-64 Apache dipersenjatai M230 Chain Gun 30mm, misil AGM-114 Hellfire serta Hydra 70 rocket pods yang diinstal di 4 sayapnya. Apache dilengkapi berbagai peralatan perang canggih, untuk menjaga kehandalannya dalam bertempur.

“Pengadaan delapan unit helikopter tempur jenis Apache bukan karena ditawarkan begitu saja oleh pihak Amerika kepada pemerintah Indonesia. Rencana pembelian itu dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia”, ujar Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.


UAV TNI AU nirawak 
PUNA UAV BPPT


Peringatan kepada siapa saja yang mau "main-main" atau curi-curi masuk wilayah udara Indonesia dari kawasan Pulau Kalimantan. Ada empat pesawat intai nirawak berpangkalan di Pangkalan Udara Supadio dalam waktu segera.

Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Imam Sufaat, menegaskan, empat pesawat tanpa awak akan memperkuat pertahanan Kalimantan dan segera ditempatkan di Pangkalan TNI AU Lanud Supadio pada akhir 2011.

"Pesawat itu diarahkan memperkuat kemampuan pemantauan. Termasuk perbatasan di Kalimantan Barat, bahkan juga dioperasikan untuk pengawasan di pulau Kalimantan," katanya saat berkunjung ke Lanud Supadio Pontianak, Jumat (19/8) sore.

Saat ini proses pembangunan hanggar untuk empat pesawat tersebut sudah delapan puluh persen dikerjakan dan ditargetkan dalam waktu dekat pengerjaannya sudah selesai.

Supadio juga menjadi pangkalan bagi Skuadron Udara 1 Elang Khatulistiwa berisikan BAE Hawk 209 buatan Inggris dan Batalion 465 Korps Pasukan Khas TNI-AU.

"Karena pengadaan pesawat tanpa awak ini dilakukan Kementerian Pertahanan, kita belum tahu pasti kapan pesawat itu bisa ditempatkan di Lanud Supadio. Kita harapkan akhir 2011 pesawat tersebut sudah ada di Supadio," kata bekas penerbang tempur itu.

Pucuk pimpinan ke-18 TNI-AU itu mengatakan, pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis untuk mempertahankan kedaulatan NKRI karena dapat dikendalikan dari jarak jauh tanpa resiko kehilangan personel pengawaknya.

Dalam terminologi militer, pesawat intai nirawak itu dikenal dengan nama unmanned aerial vehicle alias UAV.


SIMULASI PERTEMPURAN
 
Simulasi Pertempuran

Kodam VI Mulawarman akan menggelar latihan pertempuran besar-besaran di Samboja, Semoi dan Sepaku Penajam pada awal bulan September 2012. Latihan ini untuk melihat kemampuan prajurit menggunakan peralatan tempur baru, sistem integrasi antar pasukan, serta menyusun berbagai strategi tempur.(Jkgr).
Share:

SENJATA SNIPER YANG DIMILIKI SATUAN ELIT INDONESIA

Beragam senapan sniper di gunakan di lingkungan TNI saat ini. Beda dengan polri yang hanya memiliki satuan 1 gegana dan Detasemen 88 Anti Teror. Sniper yang di gunakan lebih aman, yaitu Armalite AR-10T buatan Amerika Serikat. Sebenarnya tidak efektif bagi sebuah Korps. Tapi ya sudah, berikut parade sniper yang digunakan TNI-Polri

REMINGTON 700

Inilah salah satu senapan sniper terbaik di dunia. Dikembangkan dari keberhasilan Winchester 70, Remington 700 belakangan di pilih lagi saat AS butuh sniper baru, M24 Remington mengembangkan model 700 sejak 1962, ketika Winchester menolak permintaan Marinir AS untuk penggantian Laras. Charlos Hatchock termasuk pengguna model 700.
 
Remington 700 Amerika
Nama         : Remington 700
Kaliber      : 7,62 x 51 mm
Sistem       : Bolt Action
Berat        : 4,08 kg kosong tanpa telescope
Panjang      : 1,662 mm
Laras        : 660 mm
Pengguna     : Marinir

 
GALIL GALATZ/99 R
Ide dasarnya tak lain senapan serbu AB Israel Galil AR. Lewat proses publikasi lahirlah Galil Galatz. Tak sukses pendahulunya galatz konon punya akurasi rada payah. Selain itu, ongkos produksinya juga mahal. Meski sempat di produksi banyak, IMI terpaksa merilis versi lanjutnya Galil 99r sistem otomatis.

 
Galil Galatz 99 Israel
Nama        : Galil 99R
Kaliber     : 7,62 mm
Panjang     : 111,5 cm
Laras       : -
Berat       : 6,4 kg
Sistem      : Semi outo
Magasen     : 20
Pengguna    : Kostrad

 
SPR-1,2 & 3
SPR alias Senjata Penembak Runduk buatan PT. Pindad Indonesia ini sudah menjadi standar TNI. Secara keseluruhan, semua persyaratan sudah dimiliki. Mulai dari laras yang panjang, teleskop dan bipod yang ampuh membidik target dengan jaminan akurasi dan stabilitas tinggi. Hanya sayang, body masih menggunakan kayu.
 
SPR Pindad Indonesia

Nama        : SPR-1
Kaliber     : 7,62 x 51 mm
Laras       : 650  mm
Berat       : 6,82 kg
Sistem      : Bolt Action
Alat bidik  : teleskop
Pengguna    : TNI


SIG SHR 970
Baik varian STR maupun SHR 970, sama-sama dikembangkan dari SHR (Swiss Hunting Rifle) oleh pabrik SIGarms, Swiss. SHR merupakan lightweight Tacicla Rifle, sementara STR Long Range Rifle. Kelebihan SIG 970 adalah kemudahan mengganti laras dan Kaliber. SIG SHR 970 Tactical Rifle Kaliber 7,62mm x 51 mm
SIG LTR 970 Swiss


Nama        : SIG LTR 970
Kaliber     : 7,62mm NATO (.308 WIN) atau 300 Win Magnum
Sistem      : Bolt Action, rotating bolt
Laras       : 690 mm
Berat       : 4,43 kg kosong tanpa scope
Panjang     : 1.143 mm
Pengguna    : Den Bravo 90


 
HECATE II
Tak Banyak satuan TNI memiliki sniper berat sekelas FNH/PGM Ultima Ratio Hacate II. Mengusung kaliber 12,7 mm dan bobot yang berat, pastilah akurasinya bagus. Mungkin karena spesialisasi teror pesawat terbang, bravo 90 memilih Hacate II yang pelurunya anti material.

 
Hecate II Francis
Nama                     :   Hecate II
Kaliber     : 50 BMG (12,7 x 99m)
Sistem      : Bolt Action
Laras       : 700 mm
Berat       : 13,8 Kg
Panjang     : 1.380 mm
Magasen     : 7 Peluru
Pengguna    : Den Bravo 90


SIG SAUER SSG 3000

SSG 300 dibuat oleh SIG Arms, Swiss dan J.P Sauer Jerman. SSG 3000 dikembangkan dari senapan target sauer200STR. Masih menganut sistem Bolt Action, hanya saja anak pelurunya sudah pake rumah alias magasin.
 
SSG 3000 Jerman
Nama        : SIG Sauer SSG 3000
Kaliber     : 7,62 x 51 mm
Panjang     : 1.180 mm
Laras       : 610 mm
Weight      : 6,2 kg
Magasin     : 5
Pengguna    : Den Bravo 90, marinir

 
BRNO CZ550
Jujur saja, sniper satu ini masih berteknologi lawas. Senjata ini berasal dari Republik Chechnya dan pernah terihat di Markas Kepala Negara , Paspamres. Cz550 merupakan versi modern dari modal 70 dan mauser 98
Brano Cz 550 Cechnya


Nama        : Brno cz 550
Kaliber     : 7,62 mm
Sistem      : bolt Action
Pengguna    : Paspamres


ARMALITE AR-10
Detasmen 88 Antiteror Polda Metro Jaya di dapati menggunakan AR-10 bukannya M-24 seperti yang disebut-sebut selama ini. Belum ada prestasi yang bisa disebut. Berhubung masih baru. Tim memasangkan dengan tropong bushnell.
AR 10 Amerika


Nama         : AR-10
Kaliber      : .308 / 7,62 mm (.243 win)
Laras        : 610 mm
Berat        : 4,72 kg
Sistem       : Gas operated, Rotating bolt, semi-auto
Akurasi      : 1” groups at 100 yard (93m) dgn ketepatan (1moa)
Pengguna     : Den 88 AT Polri


STEYR SSG-69
Steyr Mannilicher MOD SSG-69 bolt Action kaliber 7,62 x 51mm diproduksi oleh steyr Daimter puch, swis, sudah menjadi sniper standar AD Austria


 
SSG-69 Swiss
Nama        : SSG 69
Kaliber     : 7,62 x 51 mm
Laras       : 650 mm
Berat       : 6,82 kg
Sistem      : bolt Action
Alat bidk   : teleskop
Pengguna    : Yonif Linud 328

 
SIG SG 550
Dibuat oleh SAN Swiss ARMS (sekarang anggota dari grup SIGARMS). Sniper SG 550 sangat cocok untuk penembakan jarak menengah dan digunakan oleh polisi antiteror. Karena sangat mudah di operasikan dan mempunyai akurasi yang baik.

 
SG 550 Swiss
Nama        : SG-550
Kaliber     : 5.58 mm Nato (.223 Rem)
Sisitem     : Gas, semi-auto
Laras       : 650 mm
Berat       : 7,02 kg
Panjang     : 1.130 mm
Magasin     : 5,20,30
Pengguna    : Marinir
DANEL NTW 20
ini dia senjata sniper ketiga kelas berat yang dimiliki indonesia, tak ayal senjata sniper hasil rancangan Tony Neophytou / Afrika selatan membuat indonesia kesengsem membeli senjata ini bayangkan saja ia berhasil menciptakan Heavy sniper rifle yang bisa memuntahkan dua tipe peluru. Cukup dengan mengganti laras maka NTW 20 bisa di pakai untuk melontarkan peluru 14,5 mm Rusia atau kaliber 20 mm. bukan itu saja NTW 20 juga mengadopsi laras dan bolt dari desain meriam otomatis vektor GA1


NTW 20 Afrika Selatan
Nama       : NTW 20
Kalier     : 20 x 8,5 mm MG151 atau 14,5 X 114 mm Rusia
Panjang    : 1,79 m/2,015 m
Berat      : 26/29 Kg
Pengguna   : Taifib 1 Marinir


Share:

PERANAN INTELIJEN INDONESIA DALAM OPERASI ALPHA DI ISRAEL


“Mengecewakan! Rencana terbang yang susah payah kususun rapi langsung dibatalkan pagi-pagi. Aku mendapat perintah untuk menghadap komandan skadron. Yang terpikir, aku tidak lulus latihan terbang di Israel dan pulang ke Indonesia sebagai pilot pesakitan. Semua bayangan buruk musnah sudah. Aku ternyata menerima perintah baru untuk terbang dalam format sama, tetapi berbeda rute. Sebuah peta disodorkan lengkap dengan titik-titik rute. Ada sebuah garis merah yang wajib diterobos masuk dan dalam waktu dua belas menit harus kembali ke luar. Yang membuatku gugup, garis merah itu adalah garis perbatasan antara Israel dan Suriah”

Cerita diatas adalah sepenggal kisah dari seorang pilot yang tergabung dalam operasi alpha, operasi alpha adalah operasi klandestin terbesar yang dilakukan oleh TNI AU, dimana TNI AU melatih pilot dan melakukan pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel. Berikut adalah kutipan tentang operasi alpha yang diambil dari buku otobiografi Djoko F Poerwoko “Menari di Angkasa”.

Operasi Alpha

Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan pesawat-pesawat tempur TNI AU sudah mulai bergulir. Hal ini sebenarnya wajar saja, mengingat kondisi pesawat tempur F-86 dan T-33 memang sudah tua. Sehingga, kemudian pemerintah harus mencari negara produsen yang bisa menjual pesawatnya dengan segera. Amerika Serikat ternyata bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II. Tetapi ini masih belum cukup untuk mengisi kekosongan skadron-skadron tempur Indonesia.

Dari penggalian intelijen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita, bahwa Israel bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki. Indonesia dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik. Tetapi pada sisi lain, pembelian armada pesawat tersebut akhirnya terus diupayakan secara klandestin, oleh karena pasti akan menjadi polemik dalam masyarakat apabila tersiar di media massa.

Menuju Arizona
Usai tugas menerbangkan F-86 Sabre aku sempat terbang lagi dengan T-33. Namun pada kenyataannya, kondisi kedua pesawat tempur tersebut sudah sangat jauh menurun. Kami semua akhirnya bersyukur, setelah dibuka dua proyek besar untuk mendatangkan kekuatan baru melalui Operasi Komodo yakni pesawat F-5 E/F Tiger II serta Operasi alpha untuk menghadirkan pesawat A-4 Skyhawk.

Kerahasiaan tingkat tinggi sudah terlihat dari tata cara pemberangkatan personel. Saat kami semua sudah siap untuk berangkat, tidak seorang pun tahu, kemana mereka harus pergi. Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11. Setelah tujuh gelombang teknisi, maka berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari sepuluh penerbang untuk belajar mengoperasikan pesawat.

Sebagai tim terakhir, kami mendapat pembekalan secara langsung di Mabes TNI AU. Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar terbang disana. Informasi lain-lain masih sangat kabur.

Setelah mengurus segala macam surat-surat dan beragam kelengkapan berbau “Amerika”, akhirnya kami berangkat menuju Singapura, dengan menggunakan flight garuda dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Kami mendarat pada senja hari di Bandara Paya Lebar, Singapura, langsung diantar menuju hotel Shangrila. Dihotel tersebut ternyata telah menunggu beberapa petugas intel dari Mabes ABRI, berikut sejumlah orang yang masih asing dan sama sekali tidak saling dikenalkan. Kami akhirnya mulai menemukan jawaban bahwa arah sebenarnya tujuan kami bukan ke Amerika Serikat melainkan ke Israel. Sebuah negara yang belum terbayangkan keadaannya dan mungkin paling dibenci oleh masyarakat Indonesia.

Saat itu salah satu perwira BIA (Badan Intelijen ABRI, BAIS sekarang) yang telah menunggu segera mengambil semua paspor yang kami miliki dan mereka ganti dengan Surat Perintah Laksana Paspor (SPLP). Keterkejutanku semakin bertambah dengan kehadiran Mayjen Benny Moerdani, waktu itu kepala BIA, mengajak rombongan kami makan malam. Dalam kesempatan tersebut beliau dengan wajah dingin dan kalimat lugas, tanpa basa-basi langsung saja mengatakan, ” Misi ini adalah misi rahasia, maka yang merasa ragu-ragu, silahkan kembali sekarang juga. Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian. Namun, kami tetap akan mengusahakan kalian semua bisa kembali dengan jalan lain. Misi ini hanya akan dianggap berhasil apabila sang merpati telah hinggap…”

Mendengar ucapan beliau, perasaanku langsung bergetar. Wah, ini sudah menyangkut operasi rahasia beneran mirip James Bond. Bahkan sekalanya lebih besar. Bagaimana mungkin membawa satu armada pesawat tempur masuk ke Indonesia tanpa diketahui orang? Rasa terkejut semakin besar, oleh karena kami bersepuluh kemudian langsung berganti identitas yang mesti kuhapal diluar kepala saat itu juga.

Setelah acara makan malam, kami harus segera bergegas menuju Bandara Paya lebar dan terbang menuju Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa. Mulai sekarang, kami tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.

Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, kami harus berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Semakin aneh perjalanan, baru berdiri bengong karena masih jet lag, tiba-tiba seseorang langsung menyodorkan boarding pass untuk penerbangan ke Tel Aviv pada penerbangan berikutnya. Sampai di Bandara Ben Gurion, sesudah terbang sekitar empat jam, aku pun turun bersama para penumpang lain dan teman-temanku. Saling pandang dan cuma melirik saja, harus kemana jalan, mengikuti arus penumpang lain menuju pintu keluar.

Tetapi tanpa terduga, kami malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan, sebagai bagian dari operasi intelijen. Kami langsung ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara. hanya pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya manu dengan hati berdebar.

Tamat riwayatku kini. Kubayangkan, betapa hebatnya agen rahasi Mossad yang dapat dengan cepat mengendus penumpang gelap tanpa paspor, berusaha menyelundup masuk ke negaranya.Meski dengan sopan si Mossad memperlakukan kita, tetap saja kami berpikir buruk. Kami semua akan langsung dideportasi atau dihukum mati minimal dipenjara seumur hidup. Sebab tidak ada bukti, siapa memberi perintah datang ke Israel. Sampai diruang bawah tanah, persaan kami tenang setelah melihat para perwira BIA yang dilibatkan dalam Operasi Alpha. Kemudian baru aku tahu, kami memang sengaja diskenariokan untuk ditangkap dan justru bisa lewat jalur khusus, guna menghindari public show apabila harus ke luar lewat jalur umum.

Kami langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Yang tidak enak adalah kegiatan sesudahnya yaitu sweeping segala macam barang bawaan yang berlabel made in Indonesia. Kami juga diajarkan untuk menghapal sejumlah kalimat bahasa Ibrani, Ani tayas mis Singapore yang artinya aku penerbang dari Singapura. Ada sapaan boken tof berarti selamat pagi dan shallom sebagai sapaan saat bertemu dengan kawan.

Eliat, Pangkalan Udara Rahasia
Semalam tidur dihotel, kami kemudian diangkut dalam satu mobil van menuju arah selatan menyusuri Laut Mati. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai dikota Eliat. Perjalanan dilanjutkan kembali ditengah padang pasir, setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya van masuk ke sebuah pangkalan tempur besar diwilayah barat kota Eliat. Di Israel, pangkalan tidak pernah memiliki nama pasti. Nama pangkalan hanya berupa angka dan bisa berubah. Bisa saja nama pangkalan itu adalah base number nine di hari tertentu, namun esoknya bisa diganti dengan angka lain. Sesuai kesepakatan bersama, kami menyebut tempat ini dengan Arizona, oleh karena dalam skenario awal kami memang disebutkan akan berlatih terbang di Amerika.

Total waktu rencana pelatihan selama empat bulan. Selama itu para penerbang melaksanan kegiatan pelatihan, dari ground school hingga bina terbang, agar mampu mengendalikan pesawat A-4 Skyhawk. Latihan terbang diawali dengan general flying sebanyak dua jam, ditemani instruktur israel. Setelah itu, kami semua sudah boleh terbang solo. latihan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. kali ini kami harus mampu mengoperasikan pesawat A-4 sebagai alat perang.

Selama di Eliat, walau terjadi berbagai macam masalah, namun tidak sampai mengganggu kelancaran latihan. Masalah utama tentunya bahasa, sebab tidak semua penerbang Israeli Air Force (IAF) bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tidak diajari berbahasa Ibrani secara detail. Masalah lain adalah telalu ketatnya pengawasan yang diberlakukan kepada para penerbang. Bahkan kami semua selalu dikawani satu flight pesawat tempur selama berlatih.

Pelajaran terbang yang efektif. Misalnya terbang formasi tidak perlu jam khusus tetapi digabung latihan lain seperti saat terbang navigasi atau air to air. sehingga dengan jam yang hanya diberikan sebanyak 20 jam/20 sorti, kami semua dapat mengoperasikan A-4 sebagai alutsista. Dalam siklus ini pula, aku pernah menembus sistem radar Suriah dengan instruktur ku.

Latihan terbang kami berakhir tanggal 20 Mei 1980 dengan dihadiri oleh beberapa pejabat militer Indonesia yang semuanya hadir dengan berpakaian sipil. Kami mendapat brevet penerbang tempur A-4 Skyhawk dari IAF. Rasanya bangga, oleh karena kami dididik penerbang paling jago didunia. Namun kegembiraaan selesai pendidikan segera berubah sedih, oleh karena brevet dan ijasah langsung dibakar didepan mata kami oleh para perwira BIA yang bertindak sebagai perwira penghubung. kami dikumpulkan di depan mess dan barang-barang kami disita dan segera dibakar. Termasuk brevet, peta navigasi, catatan pelajaran selama dipangkalan ini. Mereka hanya berpesan, tidak ada bekas atau bukti kalau kalian pernah kesini. Maka hapalkan saja dikepala, semua pelajaran yang pernah diperoleh.

Wing day di Amerika
Selesai pendidikan di Israel, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, namun diterbangkan dulu ke New York. semalam di New York, kemudian diajak ke Buffalo Hill di dekat air terjun Niagara. Ternyata kami sengaja dikirim kesana untuk bisa melupakan kenangan tentang Israel. kami diberi uang saku yang cukup banyak menurut hitungan seorang Letnan Satu.Aku juga dibelikan kamera merek Olympus F-1 lengkap dengan filmnya dan diwajibkan mengambil foto-foto dan mengirim surat atau kartu pos ke Indonesia, untuk menguatkan alibi bahwa kami semua benar-benar menjalani pendidikan terbang di AS.Akhirnya selama ada objek yang menunjukkan tanda medan atau bau AS, pasti langsung dipakai sebagai background foto. Tidak terkecuali pintu gerbang hotel, nama toko bahkan sampai tong sampah bila ada tulisan United State of America pasti dijadikan sasaran foto.

Aku dibawa lagi ke New York, para penerbang kemudian diberikan program tur keliling AS selama dua minggu, mencoba tidur di sepuluh hotel yang berbeda dan mencoba semua sarana transportasi dari pesawat terbang hingga kapal.

D Yuma, Arizona, kami telah diskenariokan masuk latihan di pangkalan US Marine Corps (USMC), Yuma Air Station. Tiga hari dipangkalan tersebut, kami dibekali dengan pengetahuan penerbangan A-4 USMC, area latihan dan mengenal instrukturnya. Kami juga wajib berfoto, seakan-akan baru diwisuda sebagai penerbang A-4, skaligus menerima ijasah versi USMC. Ini sebagai penguat kamuflase intelijen, bahwa kami memang dididik di AS. Salah satu foto wajib adalah berfoto di depan pesawat-pesawat A-4 Skyhawk USMC.

Sebelum pulang ke tanah air, aku juga mendapat perintah untuk menghapalkan hasil-hasil pertandingan bulu tangkis All England. Tambahannya, aku juga diharapkan menghapal beberapa peristiwa penting yang terjadi di dunia, selama aku diisolasi di Israel. Pelajaran mengenai situasi dunia luar tersebut terus diberikan, meskipun kami sudah berada di perut pesawat Branif Airways dengan tujuan Singapura.

Sang Merpati Hinggap
Tanggal 4 Mei 1980, persis sehari sebelum pesawat C-5 Galaxy USAF mendarat di Lanud Iswahyudi, Madiun, mengangkut F-5 E/F Tiger II, paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok. Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, cocoon berlabel F-5. Dengan demikian, seakan-akan satu paket proyek kiriman pesawat terbang namun diangkut dengan media transportasi berbeda.
Nantinya, ketika sudah kembali lagi di Madiun, kepada atasan pun kukatakan bahwa pelatihan A-4 di Amerika. Sebagai bukti kuperlihatkan setumpuk fotoku selama berada di Amerika. Ingin melihat foto New York, aku punya. Mau melihat foto Akademe AU di Colorado, aku punya. Karena percaya, atasanku di Wing-300 malah sempat berkata, “Saya kira tadinya kamu belajar A-4 di Israel, enggak tahunya malah di Amerika. Kalau begitu isu tersebut enggak benar ya?”

Last but not least, gelombang demi gelombang pesawat A-4 akhirnya datang ke Indonesia setiap lima minggu, lalu semuanya lengkap sekitar bulan September 1980.

Berprestasi Tapi Harus Menutup Diri
Saat F-5 datang ke Indonesia, ternyata masih belum dilengkapi dengan persenjataan. Sedangkan A-4 justru sudah dipersenjatai dan langsung bisa digunakan dalam tugas-tugas operasional. Sehingga apa saja kegiatan TNI AU baik operasi maupun latihan selalu identik dengan F-5, walau kadang-kadang yang melakukannya adalah pesawat A-4.

A-4 tetaplah A-4 dan samasekali bukan F-5. Kondisi serba rahasia bagi armada A-4 bertahan samapi perayaan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1980, dimana fly pass pesawat tempur ikut mewarnai acara tersebut. Pesawat A-4 tampil bersama-sama F-5 dimana untuk pertama kalinya pesawat A-4 dipublikasikan dalam event besar. Setelah ini, sedikit demi demi sedikit mulailah keberadaan A-4 dibuka secara jelas. Tidak ada lag tabir yang sengaja dipakai untuk menutupi keberadaan pesawat A-4 di mata rakyat Indonesia.

Mencari detail tentang operasi Alpha susahnya minta ampun, karena tidak ada penerbang yang berangkat ke Israel selain Djoko Poerwoko yang mau menceritakan pengalamannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau yang mau menceritakan pengalamannya didalam 3 buku, walaupun mencari buku tersebut juga susahnya bukan main. Buku “My Home My Base” hanya untuk kalangan internal TNI AU, Buku “Fit Via Vi” yang merupakan otobiografi dari beliau juga merupakan cetakan untuk kalangan terbatas. Buku “Menari di Angkasa” adalah buku “Fit Via Vi” yang dicetak untuk umum, walaupun begitu tetep aja susah nyarinya (saya merasa beruntung memilikinya). Bahkan dibuku otobiografinya benny Moerdani ga dibahas sama sekali. Terimakasih juga untuk Metro tv yang beberapa bulan lalu juga menayangkan tentang operasi alpha dalam acara special operation (di liputan tersebut ada wawancara dengan Djoko Poerwoko dan satu orang pilot lagi, tapi lupa namanya).

Kontroversi tentang pengungkapan pembelian A-4 dari Israel ke publik juga diungkap oleh beliau dibukunya, beliau menulis:
“Saat buku “My Home My Base” diluncurkan, ada polemik yang menyisakan kenangan, yaitu cerita tentang keterlibatan ke Israel untuk mengambil A-4 Skyhawk. Banyak orang mempertanyakan, mengapa aku mengumbar rahasia negara. Dengan singkat hanya kujawab, “Siap, saya sudah minta ijin Kasau dan beliau mengijinkan, karena kita sebagai prajurit tidak boleh selamanya membohongi rakyat. Maka mereka yang bertanya punt idak lagi berkomentar.
Memang, didalam buku “My Home My Base” kutulis sedikit tentang perjalanan ke Israel untuk berlatih terbang A-4. Bukan untuk mencari sensasi, aku sudah menimbangnya masak-masak unung dan ruginya. Namun sebelumnya. tentu saja aku minta ijin KASAU sebagai salah satu senior A-4 dan pemimpin tertinggi Angkatan Udara. Beliau (pak Hanafie) ternyata mengizinkan, sehingga tulisan itu go ahead.”

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini bahkan setelah A-4 digrounded pada tahun 2004, Mabes TNI AU tidak pernah mengakui operasi alpha pernah terjadi.

Sumber: Poerwoko, Djoko F. Menari di Angkasa. Kata hasta pustaka. Jakarta. 2007
Share:

KRAV MAGA, BELA DIRI RESMI MILITER ISRAEL, TEKNIK MELUMPUHKAN LAWAN SECEPAT MUNGKIN

Krav Maga Federation
Bela diri Krav Maga adalah sebuah seni bela diri militer tangan kosong yang dikembangkan di Israel, Awalnya dikembangkan pada tahun 1930 oleh orang Yahudi keturunan Cheko, bernama Imrich Lichtenfeld. Seni bela diri ini digunakan bangsa Yahudi untuk mempertahankan diri mereka dari anggota milisi Nazi. Sekarang, Krav Maga ini juga diajarkan secara wajib pada Israeli Defense Forces dan Mossad (intelijen Israel). Dalam bahasa ibrani Krav Maga berarti "Pertarungan Jarak Dekat". Kata maga(מגע) berarti "kontak" atau "dekat" dan kata krav (קרב) berarti "pertarungan". Ini mempunyai maksud pertarungan yang melibatkan kontak fisik sebagai kebalikan dari pertarungan yang menggunakan senjata dari jauh (dalam versi militernya menggunakan senjata modern dalam yang digabungkan dengan teknik bela diri).

Krav Maga diciptakan dari gabungan bela diri terbaik dengan gerak-gerakan paling efisien dan paling fatal, yang diteliti dan dikembangkan dengan ilmu fisika. Tujuannya bukan untuk bertahan membela-diri, namun melumpuhkan/membunuh lawan secepat mungkin dalam hanya sebuah gerakan. Prinsip dasarnya adalah bagaimana menguasai pertarungan dan mengubah dari pola bertahan ke pola menyerang secepat mungkin. Diajarkan juga menggunakan benda-benda disekitar kita yang sering dijumpai untuk digunakan secara efektif melumpuhkan musuh.

Krav Maga tidak memiliki seragam, kompetisi, ataupun tingkat. Karena seragam membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri saat tidak mengenakannya, kompetisi menumpulkan kefatalannya yang akan berubah menjadi jurus-jurus tidak melukai lawan, dan tingkat akan membuat seseorang turun mentalnya bila ia menyadari lawannya memiliki teknik lebih baik. Padahal dalam pertarungan sesungguhnya tingkat atau teknik harus dilupakan, dah harus menjalani semangat pertarungan hidup atau mati.

Metode latihannya bukanlah latihan bentuk-bentuk dasar dan jurus yang terus diulang-ulang seperti bela diri umumnya. Melainkan sebuah metode yang dinamakan Retzef, yang berarti gerakan pertarungan secara terus menerus. Jadi metode latihannya langsung dihadapkan dengan pertarungan sesungguhnya, setelah tekniknya diperagakan. Semua murid diharuskan menggunakan tenaga penuh saat menyerang lawan latihannya, dengan perlengkapan perlindungan latihan yang lengkap.

Krav Maga Teknik
Krav Maga pada pada dasarnya menekankan keselamatan diri penggunanya sambil berusaha melumpuhkan lawannya dengan cara apapun yang bisa dilakukan. Beberapa prinsip umum adalam Krav Maga adalah sebagai berikut:

  • Jangan terluka
  • Menetralkan penyerang secepat mungkin
  • Melakukan transisi dari teknik bertahan ke teknik menyerang secepat mungkin
  • Eksploitasi semua reflek alami dalam tubuh
  • Eksploitasi semua bagian tubuh yang mudah diserang (termasuk mata, tenggorokan, selangkangan, dan lain-lain)
  • Penggunaan semua benda yang ada sebagai bantuan


Latihan dasar dalam Krav Naga mencakup latihan aerobik dan anaerobik. Perlengkapan pelindung seperti bantalan dan helm bisa saja digunakan selama latihan pertarungan. Skenario juga digunakan untuk melatih pengguna Krav Maga agar bisa mengggunakan keahlian bela dirinya dalam situasi-situasi tertentu di lapangan, misalnya saat melakukan patroli jalanan. Latihan yang memakai skenario mengajarkan pengguna Krav Maga untuk mengabaikan gangguan atau situasi lain yang bisa mengalihkan perhatiannya dan tetap fokus dalam pertarungan, contohnya dengan memakai musik keras atau mesin uap dalam latihan. Metode latihan lain untuk memberi kesan serealistik mungkin dalam situasi di dunia nyata mencakup teknik mengaburkan pandangan musuh (blindfolding), latihan hingga mencapai batas kelelahan sebelum menghadapi simulasi pertarungan, serta aneka latihan lain yang dilakukan di luar ruangan.

Ragam Contoh
Selain latihan-latihan untuk pertarungan fisik, Krav Maga juga mengajarkan penggunanya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi sekitarnya sehingga bisa mengambil tindakan antsipasi sebelum penyerangan terjadi. Krav Maga juga mengajarkan metode verbal agar penggunanya bisa menghindari situasi-situasi kekerasan yang membahayakan keselamatannya sebisa mungkin.

Pada tahun 1981, FBI mencari bela diri terbaik dan efisien untuk diajarkan pada para Agennya. Ada begitu banyak cabang beladiri yang diundang untuk mempresentasikan bela-dirinya. Termasuk Krav Maga yang sudah menjadi bela diri Mossad (intelijen Israel). Dan Krav Maga terpilih sebagai bela diri yang terbaik, karena menurut mereka paling efisien dan paling fatal untuk diajarkan pada seorang Agen. Sehingga 22 Instruktur beladiri FBI dikirim ke Israel untuk belajar Krav Maga.  Sehingga sejak saat itu bela diri ini menjadi bela diri pilihan untuk para agen rahasia dan pasukan khusus yang diajarkan saat itu secara rahasia diseluruh dunia. Namun sekarang sudah mulai dibuka untuk umum, mungkinkah Israel sudah punya bela diri yang lebih baru dan lebih fatal lagi? 
Share:

JASGU, JEEP AMFIBI SERBAGUNA KARYA ANAK BANGSA

Jasgu adalah hasil karya seorang prajurit Marinir, Kapten Marinir Citro Subono, 31 tahun. Jasgu yang dipamerkan merupakan prototipe ketiga. Selain pengunjung, Laksamana TNI Slamet Subijanto, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), juga antusias. Dia menyempatkan diri berdialog dengan Kapten Citro. KSAL terlihat bangga dengan hasil karya prajuritnya itu. Jasgu didesain Kapten Citro untuk bergerak di darat dan laut.

Jasgu (Jeep Amfibi Serba Guna) mendampingi peralatan tempur milik Marinir, seperti roket multilaras RM 70 Grade, BTR 80 A, dan Sea Rider. Peranti tempur itu umumnya impor. Namun Jasgu bikinan dalam negeri.

"Saya berharap, Jasgu bisa menjadi kendaraan serba guna. Enak untuk tempur dan dikendarai," kata Citro. Dia mengaku mendapat ide mencipta Jasgu ketika bertugas di Batalyon Angkutan Bermotor I Marinir, Karang Pilang, Surabaya, sejak 1997. Ia terusik ketika melihat perahu bot ditarik jip menuju pantai. "Kenapa tidak digabungkan saja," tuturnya.

Dengan biaya sendiri, Citro mulai "mencangkok" perahu boat ke jip. Untuk menciptakan kendaraan yang bisa bermanuver di air dan darat, ia membangun mobil amfibi yang menggunakan mesin sedan Mitsubishi Evo 4. Lahirlah Jasgu seri 1. Pada ulang tahun TNI ke-59 pada 2004, Citro mengikutkan Jasgu dalam Lomba Karya Cipta Teknologi TNI. Jasgu 1 menjadi juara inovasi terbaik, menyisihkan 147 peserta lainnya.


Citro kian bersemangat menyempurnakan mobil amfibinya. Kelemahan Jasgu 1, suspensinya terlalu ringan. Di medan berat, "perut"-nya kerap menggesek tanah. Suspensi per spiral terlalu ringkih menahan beban. Jasgu 1 terlihat kurang kokoh. "Kayak belalang," katanya. Citro pun memermak Jasgu 1. Dia menggunakan badan jip di bagian depan, sedangkan bagian bawah ia buat seperti perahu.

Lahirlah Jasgu 2 dengan penggerak mesin Mitsubishi Evo 1.800 cc, ditambah mesin Mitsubisdi L-300 2.500 cc. Jika di darat, Jasgu 2 menggunakan mesin Mitsubishi Evo. Bila terjun ke air, Mitsubishi L-300 yang bekerja. "Kecepatan di air masih belum maksimal," kata Citro. Kecepatannya hanya menyamai kecepatan tank amfibi, yang rata-rata 10 kilometer per jam atau sekitar 7 knot.

Daya apungnya juga masih payah. Ruang mesin yang penuh membuat tabung apung menjadi minimal, sehingga hanya mampu mengangkut empat serdadu tanpa ransel. Meski belum sempurna, Jasgu 2 kerap mengikuti parade TNI Angkatan Laut. Tampilan yang mirip mobil membuat Jasgu 2 tidak beda dengan kendaraan umumnya. Setelah Jasgu 2 malang melintang, mulai ada perhatian dari kesatuan tempat Citro berdinas.

Citro pun dipercaya membuat Jasgu seri 3, dengan ukuran lebih gede. Dia mendapat bantuan Rp 200 juta. Dikerjakan enam orang sipil dan dua Marinir anak buah Citro, dalam tiga bulan Jasgu 3 kelar. Peranti tempur ini jadi jauh lebih andal dan kokoh. Berat total 3.700 ton. Panjang 648 cm, lebar 200 cm, tinggi 243 cm, dengan jarak dari tanah 46 cm. Jarak antarsumbu roda mencapai 365 cm.

Jasgu 3 juga menggunakan mesin diesel Mitsubishi. Bedanya, mesin yang dicangkokkan adalah mesin truk 4.300 cc. Kini, di darat, Jasgu 3 sanggup berlari 105 kilometer per jam. Bentuk dasarnya yang mirip kapal kerap membuat orang heran. "Ini ada kapal di jalan," kata Citro menirukan. Di air, Jasgu 3 bisa melaju 25 kilometer per jam atau setara 15 knot. Jasgu 3 juga dilengkapi dua pompa air, yang berfungsi mengeluarkan air yang masuk secara otomatis.

Di air, Jasgu 3 butuh 10 liter solar untuk sejam perjalanan dengan kecepatan standar, 20 kilometer per jam. Di darat, seliter solar dapat menempuh jarak 8 kilometer, dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam.
Share:

Popular Posts

MOMOSERGEIDRAGUNOV

Pages

Military

Name*


Message*